
Pengobatan gangguan depresi mayor menjadi salah satu pembahasan penting dan serius di dunia medis yang sebenarnya juga perlu diketahui oleh masyarakat umum. Menurut para spesialis, depresi sendiri ada banyak jenisnya, dan pada tahap yang berat disebut dengan depresi mayor.
Contoh kasus saat seseorang mengalami situasi tidak terduga seperti kehilangan barang atau hewan kesayangan, maka sangat wajar jika merasa sedih, kecewa, atau mungkin marah. Perasaan ini memang secara alamiah muncul dan seiring waktu juga akan menghilang sendiri.
Namun jika perasaan seperti di atas terus menetap, maka lambat laun akan menyebabkan depresi, yang nantinya berpengaruh terhadap berat badan, jam tidur, pola hidup, dan kebiasaan makan. Pada kasus yang lebih serius, depresi mayor bisa memicu tindakan berbahaya seperti menyakiti diri atau bunuh diri.
Pengobatan Gangguan Depresi Mayor
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa depresi mayor adalah kondisi suasana hati yang tidak baik secara terus menerus atau jangka lama. Suasana hati yang dimaksud bisa rasa sedih, kecewa, marah, atau kehilangan semangat.
Kondisi ini akan cenderung membuat perilaku dan pola pikir seseorang menjadi lebih emosional dan mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas harian seperti biasa. Menurut dunia medis, inilah sejumlah pengobatan depresi mayor secara umum:
1. Konsumsi Obat
Konsumsi obat biasanya menjadi salah satu cara paling banyak untuk mengatasi depresi, dan jenis obat antidepresan sendiri ada banyak macamnya. Obat-obatan jenis ini biasanya tidak dijual bebas di apotik, melainkan harus dibeli dengan resep dokter dan sebelumnya pun harus berkonsultasi dulu dengan dokter.
Jadi jika Anda sudah tahu apa saja jenis obat antidepresan, maka tetap perlu konsultasi dengan dokter agar bisa mengetahui dosis yang tepat, jenis obat mana yang dibutuhkan, dan berapa lama harus mengkonsumsinya. Berikut beberapa jenis obat depresi:
- SNRI (Serotonin and norepinefrin reuptake inhibitor): obat depresi yang juga cocok untuk penderita penyakit kronis.
- SSRI (Selective serotonin reuptake inhibitor): contohnya adalah sertraline (Zoloft), fluoxetine (Prozac), dan escitalopram (Lexapro). Obat antidepresan jenis ini menjadi pilihan paling awal pada tahap awal depresi. Efek sampingnya sedikit dan lebih aman dibanding jenis antidepresan lainnya.
- Antidepresan atipikal seperti bupropion (Wellbutrin) dan mirtazapine (Remeron): tidak cocok jika dikombinasikan dengan jenis antidepresan lain.
- Antidepresan trisiklik: efektif untuk depresi tapi dengan efek samping tinggi dibanding jenis obat sebelumnya. Biasanya dokter akan memberikan obat ini jika penderita depresi sudah tidak mempan jika diberi SSRI.
- MAOIs (Inhibitor monoamine oksidase) seperti selegiline dan phenelzine: jenis obat ini akan diresepkan dokter jika jenis antidepresan lain tidak bekerja dengan baik. Efek sampingnya bisa sangat serius terutama jika bersamaan dengan diet ketat.
Bahkan, bisa mematikan jika dikonsumsi dengan makanan tertentu seperti acar, keju, anggur, atau suplemen herbal. MAOI juga tidak boleh dikonsumsi bersama SSRI.
- Jenis obat depresi mayor lain: dokter bisa menambahkan obat lain guna meningkatkan efek antidepresan, contohnya obat anti cemas dan stimulan atau dua jenis antidepresan untuk penstabil suasana hati. Namun pada kasus ini biasanya konsumsi hanya untuk jangka pendek.
Baca Juga: Depresi ke Psikolog atau Psikiater?
2. Psikoterapi
Selain obat, terapi depresi mayor juga dibutuhkan untuk penderita tertentu. Psikoterapi sendiri adalah jenis terapi yang biasanya dalam bentuk perbincangan dengan dokter ahli di bidang kesehatan mental. Ada dua jenis psikoterapi, yaitu:
- Terapi interpersonal: bentuk terapi yang fokusnya pada peningkatan hubungan antara sang pengidap dengan orang lain.
- Terapi perilaku kognitif: terapi yang akan membantu pengidap untuk mengidentifikasi perilaku serta pola pikir dari penyebab depresi mayor, serta cara untuk mengubah hal-hal negatif agar tidak memicu depresi.
3. Terapi Stimulasi Otak
Secara umum ada dua jenis, yaitu:
- Terapi Kejang Listrik (ECT)
Depresi akan diredakan dengan aliran arus listrik melalui otak, yang nantinya dapat mempengaruhi fungsi dan efek dari neurotransmitter yang ada di dalam otak.
Jenis terapi ini biasa diberikan jika penderita depresi tidak kunjung membaik atau sembuh setelah rajin minum obat atau tidak bisa mengkonsumsi antidepresan karena kondisi kesehatan tertentu. Bisa juga diberikan pada kondisi depresi yang sudah parah sampai memicu percobaan bunuh diri.
- Stimulasi Magnetik Transkranial (TMS)
Proses TMS melibatkan pulsa magnetik singkat yang ditempelkan lewat alat di atas kulit kepala. Aliran magnet ini bisa merangsang sel-sel di dalam otak yang bertugas mengatur suasana hati dan mengelola depresi.
Baca Juga: Obat Depresi Tradisional
4. Rawat Inap
Perawatan gangguan depresi mayor pada kondisi parah adalah rawat inap di rumah sakit. Hal ini dibutuhkan jika penderitanya sudah pernah atau kerap melakukan hal-hal yang mengancam nyawanya sendiri atau orang lain.
5. Perubahan Gaya Hidup
Selain bantuan medis, pengobatan gangguan depresi mayor juga dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup yang bisa diterapkan sendiri di rumah seperti berikut:
- Penuhi kebutuhan gizi.
- Hindari alkohol.
- Stop rokok.
- Olahraga rutin (tidak harus olahraga berat tapi bisa ringan saja asal teratur, seperti jogging atau jalan kaki 20 menit per hari).
- Tidur teratur dan cukup, misal 8 jam per hari dan tidur malam setiap jam 9.
- Kurangi konsumsi hiburan yang membawa pada pikiran atau kebiasaan negatif.
- Habiskan waktu dengan orang-orang terdekat yang bisa memberi dukungan emosional.
Baca Juga: Terapi CBT untuk Depresi
Depresi mayor masuk dalam kategori kondisi serius yang membutuhkan penanganan segera dari ahlinya. Jadi, jangan ragu untuk meminta bantuan dokter, psikolog, atau psikiater jika Anda sedang dalam kondisi depresi berat.
Sejumlah pengobatan gangguan depresi mayor yang tepat seperti di atas akan sangat membantu dalam memperbaiki kondisi Anda dan membuat hidup kembali normal.